Internasional

Tidak Benar Pemda Kamakura Jepang akan Denda Turis yang Makan Sambil Berjalan

Kota Kamakura di Perfektur Kanagawa pada April 2019 resmi memberi imbauan kepada para turis untuk tidak makan sambil berjalan kaki. Imbauan ini diberikan karena sampah kemasan dan sisa makanan yang dihasilkan turis menarik banyak hewan dan membuat warga lokal sibuk membersihkannya. Komachi dori, jalan dengan panjang 350 meter di Kamakura akan menjadi fokus imbauan untuk turis tidak makan di jalan.

Sebab jalan ini merupakan salah satu jalan tersibuk, dengan banyak stand makanan lokal dan dilewati 50.000 60.000 orang setiap harinya. Imbauan bagi para turis ini tidak memiliki ganjaran atau sanksi. Namun diharapkan dapat dipatuhi turis untuk menghormati warga lokal. Terlebih dalam budaya Jepang, makan sambil berjalan atau melakukan aktivitas lain sebenarnya dianggap sebagai hal yang tidak sopan dan tidak menghormati makanan.

Budaya ini diperkirakan muncul sejak Perang Dunia II, kala warga Jepang kesulitan untuk mendapat makanan. Bukan hanya Kamakura, di Jepang yang memberi imbauan dilarang makan sambil jalan bagi turis. Kota Firenze di Italia bahkan memberlakukan aturan dengan sanksi denda bagi turis yang makan di jalan atau di luar restoran.

Sebelumnya, Kompas.com menulis artikel berjudul Selain mengotori jalan, turis turis ini dinilai menganggu aktivitas orang serta dapat mengotori berbagai situs bangunan bersejarah dan fasilitas umum. Denda yang diberikan sebesar 500 Euro atau setara Rp 8 juta bagi turis yang makan di jalan.

Sementara itu seorang pejabat Pemda Kamakura memastikan bahwa pemberitaan mengenai denda dan sanksi bagi turis yang berjalan di Kota Kamakura tidaklah benar. Oleh karena itu Pemda membuat peraturan agar masyarakat dan turis mematuhinya dengan baik sejak April 2019. Peraturan tersebut masih mengimbau semua orang yang datang ke Kamakura agar mematuhi hal hal yang tertulis di dalamnya.

"Namun tak ada denda apa pun atau sanksi bagi turis tersebut," kata pejabat itu. Banyaknya turis yang ke Kamakura terutama asal China yang sering seenaknya membuang sampah, juga teriak teriak serta perilaku buruk lainnya membuat masyarakat mengeluh. "Juga tidak sedikit yang jalan seenaknya sehingga mengganggu sekelilingnya, saling senggol sehingga tidak membuat senang masyarakat setempat," kata dia.

Belum lagi yang seenaknya memberi makan hewan sekitarnya yang membuat perubahan lingkungan hidup menjadi tidak nyaman menimbulkan sampah makanan. Sekali lagi pejabat tersebut meminta pengertian para turis agar menjaga lingkungan kota dengan baik. "Tolong patuhi aturan yang ada. Bukan berarti tak ada denda tak ada sanksi, bisa seenaknya," ujar dia.

Hino Donasikan Dutro 4×4 untuk Pemulihan Bencana Alam di Sigi

Previous article

Meski Situasi Mulai Kondusif, Polisi Masih Terus Jaga Gedung Bawaslu

Next article
Nurofia F
Sebelum menolong orang lain, saya harus dapat menolong diri sendiri. Sebelum menguatkan orang lain, saya harus bisa menguatkan diri sendiri dahulu.

You may also like

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *