Internasional

Sepekan Setelah Teror Bom Paskah, Sri Lanka Keluarkan Larangan Mengenakan Penutup Wajah

Bertepatan dengan perayaan Paskah satu pekan lalu, serangkaian teror ledakan bom terjadi di Sri Lanka, Minggu (21/4/2019). Akibat insiden tragis dan tak berperikemanusiaan ini, setidaknya 253 orang tewas dan ratusan lainnya luka luka. Gereja gereja di Kochchikade, Negombo, Batticaloa, dan Katuwapitiya beserta beberapa hotel ternama di Sri Lanka, The Shangri La, Cinnamon Grand, dan Kingsbury menjadi target peledakan bom teroris, mengutip laman Business Insider.

Menanggapi insiden teror bom ini, pihak pemerintah Sri Lanka mengeluarkan aturan darurat tentang larangan penutup wajah bagi para wanita Muslim. Aturan sementara ini dicanangkan oleh Presiden Sri Lanka, Maithripala Sirisena dan melarang segala jenis penutup wajah yang dapat menyembunyikan identitas seseorang, seperti diwartakan This is Insider. Larangan penutup wajah ini berlaku pada Senin (29/4/2019) hari ini, menurut pernyataan kantor Presiden Sri Lanka.

"Larangan ini bertujuan untuk menjaga keamanan nasional… tidak seorang pun yang boleh menutupi wajah untuk menyulitkan identifikasi," kata pernyataan tersebut. Sementara sekitar 70 persen warga Sri Lanka merupakan pemeluk agama Budha, jumlah pemeluk agama Islam mencapai 10 persen dari total 21 juta populasi penduduk. Pemeluk agama Kristen dan Hindu masing masing berjumlah 7 dan 13 persen dari populasi, menurut New York Times.

Di Sri Lanka, beberapa wanita Muslim memang menutupi wajahnya dengan burqa atau niqab sebagai bagian dari menaati perintah agama. Anggota parlemen, Ashu Marasinghe adalah orang yang mengusulkan larangan pemakaian burqa pekan lalu. Ashu mengklaim, pakaian itu bukanlah pakaian Muslim "tradisional" di Sri Lanka dan telah digunakan oleh para teroris untuk menyembunyikan identitas mereka.

Badan Muslim tingkat atas Sri Lanka pekan lalu juga mengimbau wanita untuk berhenti mengenakan penutup wajah ini demi kepentingan keamanan nasional. "Kami sangat mengimbau para saudari kita untuk memperhatikan situasi darurat kritis yang saat ini terjadi di Sri Lanka beserta kesulitan yang dihadapi oleh petugas keamanan dalam menjalankan fungsi mereka dalam situasi di mana identitas seseorang tidak dapat diketahui dengan pasti," berikut petikan dari isi sepucuk surat dari All Ceylon Jamiyyathul Ulama (ACJU). Para pemimpin umat Katolik juga membatalkan Misa Minggu dan menutup semua gereja di Sri Lanka karena khawatir akan adanya serangan teror susulan, Associated Press melaporkan. Langkah ini diambil setelah para pejabat dan Kedutaan Besar AS di Kolombo memperingatkan bahwa masih banyak anggota militan dengan bahan peledak masih berkeliaran dan mendesak masyarakat untuk menjauh dari tempat tempat ibadah.

Dampaknya, satu di antara khotbah keagamaan disiarkan di televisi di seluruh negeri oleh Kardinal Malcolm Ranjith, uskup agung Kolombo, dari sebuah kapel kecil di kediamannya. Langkah langkah keamanan pascaserangkaian ledakan bom meletus di seluruh negeri minggu lalu, menargetkan hotel hotel mewah dan gereja selama liburan Paskah. Korban tewas direvisi menjadi 253, dan banyak lainnya masih terluka di rumah sakit. Serangan teror bom yang terkoordinasi sangat rapi itu terkait dengan kelompok militan lokal dan merupakan yang terburuk di Sri Lanka sejak berakhirnya perang saudara satu dekade lalu.

ISIS juga telah membuat klaim tanggung jawab atas teror pengeboman di Minggu Paskah ini. Polisi Sri Lanka telah menangkap puluhan tersangka sehubungan dengan ledakan itu, seiring pos pos pemeriksaan dan patroli keamanan berat tetap disiagakan di seluruh negeri. Presiden Sirisena mengatakan sekitar 140 orang telah dikaitkan dengan ISIS sehubungan dengan insiden itu, menurut AP.

"Operasi pencarian skala besar pun telah dilakukan" untuk mencari tersangka tambahan, kata Presiden Sirisena. "Setiap rumah tangga di Sri Lanka akan diperiksa," tambahnya, Jumat (26/4/2019). Teroris melakukan serangkaian pengeboman di sejumlah hotel dan gereja di Sri Lanka, Minggu (21/4/2019) lalu, bertepatan dengan perayaan Paskah.

Teror pengeboman ini menewaskan 321 orang dalam update terbaru, dan menjadi satu dari serangan teroris paling mematikan di dunia. Mengutip laman This is Insider, Menteri Pertahanan Sri Lanka mengatakan bahwa serangan bom Paskah ini merupakan 'balas dendam' bagi insiden penembakan di Christchurch, Selandia Baru pada 15 Maret 2019 lalu. Penembakan di Christchurch saat itu menargetkan umat muslim yang sedang melakukan ibadah salat jumat dan menewaskan 50 orang.

Menteri Pertahanan Sri Lanka, Ruwan Wijewardene mengatakan, "Investigasi awal mengungkapkan bahwa apa yang terjadi di Sri Lanka adalah sebagai balasan atas serangan terhadap Muslim di Christchurch," Agence France Presse melaporkan. Wijewardene juga mengatakan, korban tewas dari delapan pengeboman itu berjumlah 321 orang, 38 di antaranya adalah orang asing. "Sementara, 375 orang dirawat di rumah sakit karena luka dan cedera," katanya.

Kantor Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengatakan kepada Associated Press pada Selasa (23/4/2019), pihaknya tidak melihat intelijen apa pun yang menjadi dasar penilaian bahwa teror bom di Sri Lanka ini merupakan balas dendam. Serangan teror pengeboman di Sri Lanka terjadi di tiga gereja dan tiga hotel bintang lima: 1. Gereja St. Sebastian di Negombo.

2. Gereja St. Anthony's Shrine di Kolombo. 3. Gereja Sion di Batticaloa. 4. Shangri La Hotel di Kolombo.

5. The Cinnamon Grand Hotel di Kolombo. 6. The Kingsbury Hotel di Kolombo. Tidak jelas siapa yang melakukan serangan teror bom tersebut, tetapi Sri Lanka menilai kelompok militan Muslim, National Thowfeek Jamaath adalah pihak yang melakukannya.

Sementara, update terbaru juga menyebut kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) adalah pihak yang bertanggungjawab atas serangan teror bom di Sri Lanka Mengutip pihak berwenang di Sri Lanka, The Wall Street Journal melaporkan kecanggihan dan sifat terkoordinasi serangan bom Paskah di Minggu pagi tersebut telah membuat para pakar teror internasional menyimpulkan bahwa pihak yang bertanggungjawab (atas insiden ini) mendapat bantuan dari para teroris luar negeri yang berpengalaman. Sayangnya, Wijewardene tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang mengapa penyelidik menganggap serangan ini sebagai tindakan balas dendam.

Pada Jumat 15 Maret 2019 lalu, seorang pria bersenjata di Christchurch, Selandia Baru menembaki dua masjid berturut turut dan menewaskan 50 orang. Pelaku merupakan seorang rasis yang menyesalkan adanya akhir dari budaya orang kulit putih. Pelaku pun telah berjanji untuk melakukan serangan terhadap masjid pada hari sebelum serangan.

Brenton Tarrant, seorang warga Australia, telah didakwa dengan 50 tuduhan pembunuhan dan kini sedang menunggu persidangan. Setelah berbicara dengan Parlemen, Wijewardene mengetwit, "Saya meminta Pemerintah Sri Lanka untuk segera melarang National Throwheeth Jama'ath dan mendaftarkan mereka sebagai organisasi teroris." Di Twitter, Menteri Keuangan Mangala Samaraweera menyebut serangan itu sebagai "upaya terkoordinasi dengan baik untuk menciptakan pembunuhan, kekacauan, dan anarki."

Sejumlah langkah keamanan yang ditingkatkan dan diberlakukan Sri Lanka sejak serangan itu adalah jam malam nasional dan persyaratan bahwa siapa pun yang memarkir mobil di jalan meninggalkan catatan dengan nomor telepon mereka di kaca depan, The Associated Press melaporkan. Layanan posnya juga tidak lagi menerima parsel yang sudah disiapkan sebelumnya, dan polisi telah diberi kekuasaan darurat. Agen agen keamanan Sri Lanka juga sedang berada dalam pengawasan.

Sebab, tampaknya mereka telah mengantisipasi potensi adanya serangan, tetapi gagal menghentikannya. Wakil inspektur jenderal kepolisian Sri Lanka, Priyalal Disanayaka, mengatakan kepada badan keamanan Sir Lanka pada 11 April bahwa serangan terhadap "beberapa gereja penting" dari kelompok ekstremis sudah dekat, AP melaporkan. Pada Selasa (23/4/2019), Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe mengatakan ia akan mengadakan penyelidikan mengapa badan badan yang terkait tidak bertindak atas informasi tersebut.

Dia mengatakan bahwa jika mereka telah mengantisipasi, kemungkinan banyak nyawa yang bisa diselamatkan atau serangan teror tersebut dicegah. Rosie Perper dari INSIDER sebelumnya melaporkan bahwa serangan hari Minggu (21/4/2019) lalu adalah tindakan terorisme besar pertama di Sri Lanka sejak perang saudara yang berakhir hampir 10 tahun yang lalu, setelah kekalahan kelompok militan Macan Tamil. Namun, di Sri Lanka memang telah terjadi beberapa kasus kekerasan agama pada tahun tahun setelah perang saudara tersebut.

Pada Maret 2018, Sri Lanka mendeklarasikan keadaan darurat 10 hari ketika bentrokan antara komunitas Muslim dan Budha mencapai puncaknya. Pasca teror pengeboman Paskah, Sri Lanka untuk sementara waktu melarang situs situs media sosial utama, tindakan yang juga dilakukan pada Maret 2018. Sri Lanka memiliki sektor pariwisata yang sedang naik daun, dan Lonely Planet menamainya sebagai tempat nomor 1 untuk berwisata pada 2019.

Insiden teror serangan bom ini tentu juga berpengaruh pada dunia pariwisata Sri Lanka.

Besok Ditutup, Pelamar Sejumlah Instansi Sekdin 2019 Tiba Tiba Membengkak, Ada Sampai 35 Kali Kuota

Previous article

Pesona Wisata Kampoeng Ciherang di Sumedang, Wisata Alam dengan Banyak Spot Foto

Next article
Nurofia F
Sebelum menolong orang lain, saya harus dapat menolong diri sendiri. Sebelum menguatkan orang lain, saya harus bisa menguatkan diri sendiri dahulu.

You may also like

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *