Lifestyle

Seakan Bisa Baca Pikiran Hingga Saling Dukung 4 Tanda Si Dia Adalah Pasangan yang Tepat untukmu

Menemukan pasangan yang cocok bukanlah hal yang mudah, ada beberapa ciri ciri kecocokan pasangan seperti berbagi ide untuk masa depan dan saling mendukung. Pasangan yang tepat memang sulit ditemukan, tetapi begitu ditemukan maka akan menjadi pasangan yang tidak terpisahkan. Tetapi, pasangan yang kita cintai belum tentu menjadi pasangan seumur hidup kita.

Beberapa kasus, orang yang sudah berpacaran cukup lama malah tidak bisa menikah di masa depan karena ketidak cocokan. Memang tidak mudah untuk mengetahui bahwa seseorang merupakan pasangan yang cocok untuk kita. Dilansir dari Bright Side, inilah tanda kita sudah menemukan pasangan yang cocok untuk menikah.

Ini bukan tentang hal hal paranormal dan kemampuan membaca pikiran, sebuah penelitian psikologis membuktikan bahwa cinta dapat membantu sistem saraf kitajadi selaras dengan pasangan. Setelah menghabiskan waktu untuk bersama, satu sama lain akan lebih peka terhadap perasaan, pikiran, dan reaksi. Koneksi ini lebih dari sekadar mengenal seseorang dengan baik, seperti sudah memahami satu sama lain walaupun tidak saling berbicara sekalipun.

Setelah menemukan cinta, maka saatnya untuk memikirkan masa depan. Memikirkan masa depan dan memasukkan pasangan dalam rencana rencana kita di masa depan adalah tanda bahwa kita sudah memilih pasangan yang tepat karena sudah memikirkan hubungan dalam jangka panjang. Saling mendukung satu sama lain juga merupakan tanda kita sudah menemukan pasangan yang tepat.

Sebab suatu hubungan harus saling mendukung satu sama lain karena mendengar dukungan dan support dari orang yang kita cintai bisa membuat kita mencintai diri sendiri. Ketika membicarakan tentang cinta, selalu dikaitkan erat dengan hati atau perasaan, padahal yang sebenarnya terjadi adalah perasaan itu berasal dari pengaruh fungsi otak. Sebuah studi di Stony Brook University di New York telah membuktikan bagaimana reaksi otak yang dipengaruhi oleh perasaan cinta.

Saat sedang memikirkan seseorang yang kita cintai, pusat imbalan atau reward center pada otak akan terstimulasi dan meningkatkan kadar dopamin, sehingga kita merasakan 'butterflies in my stomach' atau perasaan berdebar yang muncul saat jatuh cinta. <span ></span> Dalam sebuah hubungan, tentu saja ada berbagai permasalahan yang dapat memicu pertengkaran. Pertengkaran bisa terjadi setiap saat dan tidak memandang kondisi satu sama lain.Menurut survei terbaru, 44%<span ></span>pasangan<span ></span>yang sudah menikah percaya bahwa<span ></span>bertengkar<span ></span>seminggu sekali bisa membantu mereka menjaga hubungan yang sehat dan produktif untuk waktu yang lama.

Faktanya, pasangan yang sering bertengkar dan berdebat kemudian menyelesaikannya dengan cara damai akan memilih tetap bersama karena mereka tahu bagaimana karakter pasangan dalam menyelesaikan masalah dalam hubungan. Selain itu, kebiasaan juga menjadi pertimbangan untuk tetap bersama, karena merasa terbiasa menyelesaikan masalah dengan pasangannya sekarang, sedangkan jika bersama orang baru, cara penyelesaian masalah berbeda dan mungkin akan lebih sulit. Lalu, benarkah<span ></span>pasangan<span ></span>yang sering<span ></span>bertengkar<span ></span>adalah<span ></span>pasangan<span ></span>yang sangat mencintai satu sama lain? Berikut faktanya :

Seiring berjalannya waktu, masalah akan terus datang. Seseorang tidak mungkin akan menghindari masalah dan itu bukanlah cara untuk membangun hubungan jangka panjang. Dalam menyelesaikan masalah, orang memiliki caranya masing masing.

Jika penyelesaian masalah dilakukan secara damai dan tidak mekalukan hal hal yang negatif, itu berarti hubungan sudah matang dan siap dibawa ke tingkatan yang lebih serius. Jika<span ></span>bertengkar<span ></span>karena kebiasaan<span ></span>pasangan<span ></span>yang membuat anda kesal, itu tandanya peduli. Secara tidak langsung, saat<span ></span>bertengkar, kita melihat kebiasaan<span ></span>pasangan<span ></span>yang menurut kita tidak baik, dan menegurnya.

Dengan kata lain, kita peduli dengan<span ></span>pasangan<span ></span>dan tidak ingin<span ></span>pasangan<span ></span>melakukan perbuatan yang tidak baik. Ingatlah seberapa sering kita berdebat dengan orang orang terdekat, selain mendapatkan cinta dari kita, orang terdekat juga akan menjadi tempat pertama kita mengeluh. Maka<span ></span>pasangan<span ></span>akan berdebat karena mereka saling peduli satu sama lain, asal dengan alasan yang jelas dan diselesaikan dengan damai dan dewasa.

Bertengkar adalah salah satu cara berkomunikasi dengan<span ></span>pasangan, namun dengan cara yang sedikit memaksa. Bertengkar adalah komunikasi yang jujur dan menjelaskan keadaan yang sebenar benarnya dari apa yang terjadi. Dalam komunikasi ini, sebaiknya dilakukan dengan pikiran terbuka dan mendengarkan satu sama lain, agar masalah terselesaikan dengan damai.

Jika<span ></span>bertengkar<span ></span>dalam batas wajar dan dengan permasalahan yang dapat diselesaikan dengan baik dan damai, pertengkaran bisa menjadi indikator hubugan yang sehat. Psikolog percaya bahwa ada 7 poin kunci untuk hubungan yang sehat dan bahagia, dan salah satunya adalah<span ></span>bertengkar<span ></span>dan berdebat. Bahkan, jika<span ></span>pasangan<span ></span>tidak pernah berdebat, maka bisa jadi ada sesuatu yang tidak beres dengan mereka.

Berdebat bisa membantu<span ></span>pasangan<span ></span>mempertimbangkan kembali nilai perasaan mereka dengan berdiskusi menurut prespektif satu sama lain. Namun, argumen harus sehat dan tidak agresif, selalu coba untuk menyatakan kekecewaan atau apapun yang ingin diungkapkan tanpa emosi. Ketika<span ></span>bertengkar<span ></span>dengan<span ></span>pasangan, tidak peduli menang atau kalah dalam argumen, yang paling enting adalah sama sama berlajar tentang satu sama lain, dan diri sendiri.

Pertengkaran kecil membantu kita mengungkapkan sifat asli diri kita dan<span ></span>pasangan<span ></span>secara personal, lalu saling mengetahui bagaimana cara menghadapi satu sama lain. Seiring berjalannya hubungan, saat terjadi masalah terkadang kita memilih diam dan tidak mengungkapkannya. Hal ini bisa memicu dendam dengan<span ></span>pasangan<span ></span>karena ada beberapa hal yang tidak kita ungkapkan.

Bertengkar bisa meredakan dendam karena segala masalah dapat diungkapkan dan dicari jalan keluarnya. Menurut penelitian, kesalahan yang biasanya dilakukan oleh<span ></span>pasangan<span ></span>adalah menghindar untuk menyelesaikan masalah. Kita sering merasakan ada hal yang tidak beres tetapi memilih untuk tetap diam.

Padahal karena komunikasi yang buruk bisa mengakibatkan putusnya suatu hubungan. Bertengkar memungkinkan kita untuk fokus pada masalah dan menyelesaikan jalan keluarnya sebelum masalah menjadi besar, itu sebabnya<span ></span>pasangan<span ></span>yang sering<span ></span>bertengkar<span ></span>akan tetap bersama. Jika sudah bersama dalam beberapa tahun, merasa bosan adalah hal yang wajar.

Pertengkaran akan memicu komunikasi yang dapat membuat hubungan kembali hidup dan jauh dari kejenuhan. Perlu diingat bahwa pertengkaran yang bisa menghilangkan kejenuhanadalah pertengkaran yang diselesaikan dengan cara yang baik yaitu mengubah argumen menjadi diskusi yang produktif. Saling menghormati, Memaafkan dan tetap menjaga perasaan<span ></span>pasangan<span ></span>bisa membuat pertengkaran menjadi hal yang positif dalam hubungan.<span ></span>

Try Out & Seminar Motivasi Masuk Kampus Hadir di Bekasi

Previous article

Kuliner di Madiun Langganan Para Artis Ibu Kota Depot Nasi Pecel 99

Next article
Nurofia F
Sebelum menolong orang lain, saya harus dapat menolong diri sendiri. Sebelum menguatkan orang lain, saya harus bisa menguatkan diri sendiri dahulu.

You may also like

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *