Kesehatan

Dampak Penikahan Sedarah Pada Keturunan Menurut Ahli, Mulai Cacat Hingga Melemahkan Tubuh

Meski perkawinan sedarah dari kaca mata hukum tak memiliki jerat pidana, melainkan hanya sebatas sanksi administratif. Pernikahan sedarah yang dilakukan oleh warga Kecamatan Ujung Loe, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan berinisial AM (29) dan FI (21) sempat menggegerkan publik. Pasalnya, sang pria (AM) masih memiliki keterikatan pernikahan dengan wanita lain alias 'suami orang' saat menikahi adik kandungnya.

Bagaimana menurut para ahli dalam kesehatan anak dari hubungan pernikahan sedarah kelak? Perkawinan antar saudara dan antara orangtua dan anak adalah hal yang terlarang di setiap kebudayaan manusia, dengan beberapa pengecualian yang sangat terbatas. Melansir dari Psychology Today, Senin (29/7/2019), gagasan untuk berhubungan seks dengan kakak atau adik kandung, atau orangtua atau anak sendiri merupakan bayangan yang sangat mengerikan, hampir tidak pernah terbayangkan bagi sebagian besar orang.

Psikolog Jonathan Haidt menemukan bahwa hampir setiap orang menolak dengan keras prospek hubungan seksual antara kakak adik, bahkan dalam situasi imajiner tidak ada kemungkinan kehamilan. Mengapa makhluk hidup menghindari perkawinan sedarah, alias incest? Karena pada umumnya, hubungan sedarah berdampak sangat buruk bagi populasi atau keturunan dari hasil perkawinan tersebut.

Berikut dampak dari hubungan perkawinan sedarah: Perkawinan sedarah atau disebut dengan inses/incest adalah sistem perkawinan antar dua individu yang terkait erat secara genetik atau garis keluarga, di mana kedua individu yang terlibat dalam perkawinan ini membawa alel atau gen yang berasal dari satu nenek moyang. Ilustrasi permasalahan pernikahan sedarah (//theconversation.com)

Incest dianggap sebagai masalah kemanusiaan karena praktik ini membuka kesempatan yang lebih besar bagi keturunannya untuk menerima alel resesif merusak yang dinyatakan secara fenotip. Fenotip merupakan deskripsi karakteristik fisik yang sebenarnya termasuk karakteristik yang tampak sepele, seperti tinggi badan dan warna mata, juga kesehatan tubuh secara keseluruhan, riwayat penyakit, perilaku, serta watak dan sifat umum. Singkatnya, seorang keturunan dari perkawinan sedarah akan memiliki keragaman genetik yang sangat minim dalam DNAnya karena DNA turunan dari ayah dan ibunya adalah mirip.

Kurangnya variasi dalam DNA dapat berdampak buruk bagi kesehatan, termasuk peluang mendapatkan penyakit genetik langka, seperti albinisme, fibrosis sistik, hemofilia, dan sebagainya. Efek lain dari perkawinan sedarah termasuk peningkatan infertilitas (pada orangtua dan keturunannya), cacat lahir seperti asimetri wajah, bibir sumbing, atau kekerdilan tubuh saat dewasa, gangguan jantung, beberapa tipe kanker, berat badan lahir rendah, tingkat pertumbuhan lambat, dan kematian neonatal. Satu studi penelitian menemukan bahwa 40 persen anak hasil hubungan sedarah antara dua individu tingkat pertama (keluarga inti) lahir dengan kelainan autosomal resesif, malformasi fisik bawaan, atau defisit intelektual yang parah.

Seperti yang ditunjukkan oleh psikolog University of Miami Debra Lieberman dan Adam Smith dalam sebuah artikel di jurnal Current Directions in Psychological Science, manusia memiliki mekanisme sosial dan psikologis untuk mencegah inses. Bahkan gagasan berhubungan seks dengan ibu atau ayah atau kakak atau adik membuat orang kesal. Psikolog Jonathan Haidt telah menemukan bahwa hampir semua orang ditolak oleh prospek seks saudara saudari, bahkan dalam situasi hipotetis di mana tidak ada peluang untuk hamil.

Setiap orang memiliki dua set 23 kromosom, satu set dari ayah dan yang lainnya diwariskan dari ibu (total 46 kromosom). Akan tetapi, orang orang yang memiliki satu gen rusak masih dapat mewarisi gen tersebut pada keturunannya nanti yang disebut ‘carrier’, karena mereka membawa salinan tunggal namun tidak memiliki penyakit tersebut. Disinilah masalah akan mulai timbul bagi keturunan inses.

Bila seorang wanita adalah carrier gen rusak, maka ia memiliki 50 persen pulang untuk menurunkan gen ini ke anaknya. Biasanya, hal ini tidak akan menjadi masalah selama ia mencari pasangan yang memiliki dua pasang gen sehat, sehingga keturunan mereka akan hampir pasti akan mendapatkan setidaknya satu salinan gen sehat. Tetapi pada kasus incest, besar kemungkinannya pasangan (yang merupakan kakak atau adik) membawa jenis gen rusak yang sama, karena diturunkan dari orangtua yang sama.

Suatu pasangan masing masing memiliki 50 persen peluang untuk mewariskan gen rusak pada anak, sehingga nanti keturunan memiliki 25 persen peluang memiliki albinisme. Memang, tidak semua orang yang memiliki albinisme (atau penyakit langka lainnya) yang merupakan hasil dari perkawinan sedarah. Setiap orang memiliki lima atau sepuluh gen rusak yang bersembunyi di DNA.

Dengan kata lain, takdir juga memainkan peran saat memilih pasangan, apakah mereka akan membawa gen yang rusak atau tidak. Namun untuk kasus incest, risiko berdua membawa gen rusak menjadi sangat tinggi. Setiap keluarga kemungkinan besar memiliki gen penyakit tersendiri (misalnya diabetes), dan perkawinan sedarah adalah kesempatan bagi dua orang carrier dari gen rusak untuk mewarisi dua salinan gen yang rusak kepada anak anaknya.

Pada akhirnya, keturunan mereka dapat memiliki penyakit tersebut. Peningkatan risiko ini juga dipengaruhi oleh pelemahan sistem imun tubuh yang dialami anak anak dari orangtua sedarah akibat kurangnya variasi DNA. Sistem kekebalan tubuh tergantung pada komponen penting dari DNA yang disebut Major Histocompatibility Complex (MHC). MHC terdiri dari sekelompok gen yang bertugas sebagai penangkal penyakit.

Kunci agar MHC bisa bekerja dengan baik melawan penyakit adalah memiliki keanekaragaman tipe alel sebanyak mungkin. Semakin beragam alel, semakin baik tubuh memerangi berbagai penyakit. Keberagaman penting karena setiap gen MHC berfungsi melawan penyakit yang berbeda beda.

Selain itu, setiap alel dari MHC dapat membantu tubuh mendeteksi berbagai jenis material asing yang menyusup ke dalam tubuh. Saat terlibat dalam perkawinan sedarah dan memiliki keturunan dari hubungan tersebut, anak anak akan memiliki rantai DNA yang tidak variatif. Yang artinya, anak anak hasil hubungan incest memiliki alel MHC yang sedikit jumlahnya atau keragamannya.

Rizal Sungkar Meski Tanpa Rem Tapi Tetap Naik Podium di Posisi Tiga Rally of Indonesia 2019

Previous article

Ular Piton Jatuh Dari Atas Plafon, Wakil Rakyat Lari Terbirit Birit

Next article
Nurofia F
Sebelum menolong orang lain, saya harus dapat menolong diri sendiri. Sebelum menguatkan orang lain, saya harus bisa menguatkan diri sendiri dahulu.

You may also like

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *