Travel

4 Aksi Keributan saat Penerbangan Ini Perlihatkan Perbedaan Penumpang Asia & Eropa di Pesawat

Keributan saat penerbangan hingga perilaku tidak sopan penumpang di pesawat ternyata punya manifestasi secara berbeda pada wisatawan dari Asia dan Eropa. Perbedaan perilaku penumpang Asia dan Eropa ketika di pesawat ditulis dalam laporan Sekolah Manajemen Hotel dan Pariwisata di Hong Kong Polytechnic University. "Secara umum, masyarakat Asia lebih (berperilaku baik), berdasarkan pada nilai nilai umum Ajaran Konfusianisme (berbudi luhur). Mereka lebih sabar ketika mengalami ketidaknyamanan," kata Markus Schuckert, asisten profesor di sekolah itu yang juga seorang pakar pariwisata.

Perkelahian atau keributan saat penerbangan akhir akhir ini semakin meningkat. Saat terjadikeributan di dalam pesawat, penumpang lain sengaja merekam dengan kamera ponsel untuk menyebarkan rekaman tersebut. Pada bulan Januari 2019, seorang penumpang merekam video seorang turis Australia bertelanjang dada yang memicu perkelahian di udara pada penerbangan Scoot, maskapai Singapura dari Gold Coast.

Pria yang tidak disebutkan namanya itu digambarkan oleh pihak berwenang sebagai "seorang pria pengganggu". Ia ditangkap setelah pesawat dipaksa melakukan pendaratan darurat di Sydney. Pada bulan April tahun ini, seorang penumpang mengamankan dokter dari Rusia yang mabuk.

Penumpang itu mengikatnya untuk mencegah dokter yang mabuk membuka pintu keluar darurat. Pasalnya, pada saat itu pesawat sedang mengudara pada ketinggian 33.000 kaki (10.000 meter). Pria itu membuat masalah di atas penerbangan Aeroflotrute Bangkok ke Moskow.

Laporan menunjukkan bahwa dokter anestesi berusia 43 tahun bernama Vadim Bondar, telah minum rum dalam penerbangan 10 jam sebelum melakukan aksinya. Awal bulanMei 2019, media China melaporkan seorang penumpang tua ditangkap dan ditahan di provinsi Shandong. Pria itu ditangkap karena mencoba membuka pintu darurat ketika pesawatnya lepas landas.

Pada Februari tahun ini, maskapai China berbiaya rendah Lucky Air mengumumkan pihaknya menggugat penumpang karena melemparkan koin ke mesin pesawat sebelum penerbangan dari Anqing ke Kunming. Pihak maskapai menemukan masalah ketika mereka menemukan dua koin satu yuan di tanah dekat pesawat. Penumpang itu mengaku melakukan ini untuk keberuntungan.

Insiden ini mengingatkan kita pada kejadian yang sama pada Oktober 2017, ketika seorang wanita Tiongkok berusia 76 tahun melemparkan koin ke mesin jet untuk mengharapkan perjalanan yang aman. Pihak berwenang menahannya dan menghentikan penerbangan sementara. Dari empat kasus di atas, penelitian oleh Schuckert dan rekan rekannya mengungkapkan bahwa penumpang pesawat dari Asia dan Barat punya perbedaan dalam membuat keributan di atas udara.

"Di negara negara Barat, sangat jarang, misalnya membuka pintu darurat. Namun, di beberapa negara Asia Timur itu sering terjadi. Penumpang itu biasanya takut, stres, tidak paham atau kurang informasi," kata Schuckert. "Semua kejadian ini, berdasarkan kurangnya pengetahuan atau takhayul, menyebabkan gangguan penerbangan, dan dapat dianggap sebagai tindakan mengancam keselamatan," kata Schuckert. Insiden terkait pelanggaran di tempat duduk, misalnya berebut sandaran tangan, mendorong kursi ke belakang atau yang berkaitan dengan gangguan layanan, tidak menyebabkan keributan terlalu parah.

Penumpang Barat atau Eropa sering membuat insiden kekacauan di pesawat akibat mabuk atau minum berlebihan, sementara penumpang Asia lebih sering membuat masalah karena kecerobohan.

Ini Pernyataan Resmi dari Agensi Cha In Ha Ditemukan Meninggal Menika Dunia

Previous article

BRI Gandeng Startup Wujudkan Integrated Financial Solution Gelar Innovation Lab Program

Next article
Nurofia F
Sebelum menolong orang lain, saya harus dapat menolong diri sendiri. Sebelum menguatkan orang lain, saya harus bisa menguatkan diri sendiri dahulu.

You may also like

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *